Para Pejuang

Ilustrasi Para Pejuang

          Beberapa minggu lalu (lupa deh tepatnya kapan), aku dapet telp. dari temenku pas jam istirahat. Kuangkatlah telepon itu dan dia minta aku buat turun karena katanya dia sudah ada di depan kantorku, katanya kalo gak turun bakalan ditembak (agak lain emang nih anak). Waktu aku turun ternyata dia udah bawa mainan pistol yang terbuat dari bambu dan memberikannya padaku 2 pistol! wkwkwk dia cerita tadi habis beli makanan liat orang jualan dengan membawa pistol bambu banyak di bagian belakang sepedanya, karena kasihan dia beli lah tuh mainan sejumlah 2 biji. 

           Kalo diinget-inget lagi, sering gak sih kita tuh nemuin penjual-penjual kayak gini? Contoh : 

    • Orang jual jipang di pom bensin yang kalian datangi (yang biasanya isi bensin di sidoyoso pasti tau nih hehe) ;
    • Orang jual susu di jalanan pulang yang kalian lalui ;
    • Orang jual mainan anak-anak di jalanan kampung kalian ;
    • Orang jual keripik singkong di depan SPBU ;
    • Dst., kalo yang pernah kalian temui apa?
           Kita beli bukan karena kita emang butuh hal tersebut, tapi karena kasihan. Bisa jadi setelah beli pun kita gak akan makan atau make tuh barang, yang ada kita buang barang/ makanan tersebut. 

        Awalnya sih aku heran kenapa ya kok mereka memutuskan untuk menjual produk tersebut? padahal udah tau kalo hal tersebut gak bakal laku di masyarakat zaman sekarang. Tapi kalo kita coba memposisikan diri sebagai penjual tersebut, bisa jadi emang ada kondisi/ latar belakang yang membuat mereka seperti itu. Misalnya kondisi ekonomi yang sulit sehingga, untuk menyisihkan modal lebih juga sulit. Kondisi ekonomi ini juga bisa mempengaruhi pada kemampuan mereka untuk mengakses pelatihan/ meng-upgrade skill mereka. Contohnya, orang yang jualan mainan pistol dari bambu, bisa jadi ya hanya itu yang bisa menghasilkan uang dari segudang kemampuannya saat ini. Skill adanya itu, modal uang adanya buat beli karet dan nyari bambu, peralatan pisau sudah ada di rumah, sehingga jadilah mainan pistol. Hasil yang didapat hanya cukup dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Terus berputar demikian.

        Aku gak hendak menyalahkan mereka atas pekerjaan yang mereka pilih, karena pasti ada latar belakang yang aku pun gak tau persis penyebabnya sehingga mereka ada di posisi tersebut. Justru, aku juga mau ngingetin kita semua, mereka adalah pihak yang perlu kita bantu karena dengan sekuat tenaga mereka pantang mengemis atas kondisinya, mereka berusaha terlebih dahulu, percaya pada kemampuan dirinya dan memanfaatkan modal yang dia punya untuk bisa mendapatkan apa yang mereka butuhkan. 

          Dengan mendudukkan diri ada di posisi mereka aku jadi belajar beberapa hal :

        Pertama, berusaha terlebih dahulu, sesulit apapun kondisi kita, sesulit apapun itu, setidak mungkin apapun kondisi kita. Mungkin kita merasa berat, gak bisa, dan gak mungkin atas masalah yang kita hadapi sekarang. Seolah-olah setiap hari menemukan jalan buntu untuk menjalankan solusi atas seluruh masalah kita. Sebagian dari kita juga kadang capek duluan dan mengaktifkan flight mode saat masalah terjadi (alias lari dari masalah). Tapi balik lagi sih, ujung-ujungnya kita juga harus menghadapi/ fight terhadap masalah tersebut.

        Emang sih.. ada beberapa kondisi yang kita gak bisa ubah sama sekali dan itu ada di luar kendali kita. Takdir, katanya. Takdir itu membawa kita berada di posisi yang sekarang sehingga, resource yang kita miliki adanya yaaa yang nampak sekarang itu. Tapi liat para pedagang tadi. Mereka gak hanya berhenti pada meratapi takdir mereka, nyatanya mereka masih mencoba cari jalan keluar dengan adanya mereka sekarang. Takdir boleh membawa mereka pada kondisi seterpuruk itu, tapi usaha tetap jalan karena takdir juga bagian dari pilihan kita sendiri. Ada hal yang bisa kita ubah jika kita mengusahakannya, mungkin butuh waktu lebih lama daripada yang lain. Hal menyenangkan dari perjuangan ini yaitu ketika nanti mati, kita gak akan menyesali takdir yang sudah terjadi, karena kita sudah berjuang sebaik mungkin selama hidup kita.

        Tapi tapi inget! tetep harus seimbang ya, poin ini juga bisa berefek pada perjuangan habis-habisan dari diri sendiri sehingga, kadang lupa ada sekitar yang sebenernya juga bisa bantu kita. Ini yang bakalan masuk di poin berikutnya yaitu: kedua, kalo nyatanya kita butuh bantuan, maka asking for help bukan hal yang diharamkan. Bahkan Allah pun juga memerintahkan kita untuk saling tolong menolong pada sesama dan gak ngelarang kita buat meminta bantuan ke Dia.

Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,


1: 153 

Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

        Ketiga, lagi dan lagi sesulit apapun kondisi kita pasti ada jalan, ikhtiar satu-satunya jalan. Kita manusia makhluk pilihan yang punya misi luar biasa dan diberikan bekal yang luar biasa pula. Jangan menyerah! Coba dipikir lagi dah, ada gak sih masalah-masalah yang kalian kira gak bakal bisa kalian selesaikan eh tapi ujung-ujungnya selesai juga? Kalo aku ada yaitu skripsiku selesai hehe! Bagiku ada sisi ajaibnya juga bahwa hal tersebut selesai.

            Kalian gimana? Ada gak? Boleh dong share (kalo kalian gak keberatan).
            
         Mari kita kembali pada penjual pistol bambu tadi misalnya, oke kondisi ekonomi kurang sehingga modal buat usaha juga kurang. Peralatan untuk menjalankan usaha juga terbatas. Tapi untungnya, di sekeliling lingkungannya ada hutan bambu yang menghasilkan banyak bambu yang bisa diambil secara cuma-cuma. Skill untuk membuat mainan pistol bambu juga sudah ada, karet di rumah ada, kalaupun kurang masih bisa beli dengan harga yang sangat terjangkau, pisau juga sudah ada di rumah, tenaga ada, sepeda untuk keliling menjajakan hasilnya juga sudah punya. Jadilah usaha mainan pistol bambu dengan memanfaatkan kelebihan yang ada di sekitar.

            Relate?

        Kita emang punya kekurangan masing-masing tapi jangan lupa, kita juga punya kelebihan kita sendiri. Coba deh buka note kalian tulis apa aja kelebihan dan kekurangan kalian masing-masing, pasti ada. Kalo gak percaya coba deh tanya ke keluarga atau temen deket kalian! Tenang Allah menguji kita dengan kondisi kurang dan kelebihan kita masing-masing, lebihnya itu ya ayo kita maksimalkan.

5 : 32  
Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


        Hikmah tambahan : bekal itu tetep harus diasah agar potensinya bisa maksimal (aku merasa hal ini agak kurang relate kalo mengambil hikmah dari posisi mereka, aku jadikan hikmah tambahan yaa wkwk). Apa yang kalian suka dan itu bisa memberikan manfaat, coba ditekuni, coba apapun yang bisa kita coba untuk memaksimalkannya. Gak ada salahnya juga kan? Toh kita hanya mengusahakan yang terbaik untuk kita sendiri, biar nanti pas meninggal gak akan menyesali apa-apa yang sudah kita sia-siakan di kehidupan kita :)

        Mungkin itu beberapa hal yang bisa kuambil hikmahnya dari mereka, gak banyak sebenarnya cuman dari minggu lalu pikiran ini selalu terngiang-ngiang, pertanyaan kenapa mereka masih menjual itu? kemana anak/ keluarga mereka? apa saja tanggungan mereka? Bahkan berakhir pada perntanyaan : gimana kalau pada akhirnya aku ada di posisi mereka di masa tuaku?

        Satu-satunya hal yang bisa kulakukan sekarang adalah dengan memanfaatkan apa yang ada sebaik mungkin dan mengusahakannya. Paling tidak ini juga jadi bekalku di akherat kelak.

        Makasih ya udah baca!

        Sehat selalu, hope you always find a way to feel joy in your life!

Komentar

Postingan Populer