Pengambilan Keputusan
source: https://inc.mizanstore.com/aassets/img/com_cart/produk/cantik-itu-luka-hc-limited-edition-eka-kurniawan.jpg
judul dan tulisan kali ini terinspirasi dari cerita yang aku baca di buku "Cantik Itu Luka". aku adalah orang yang suka membaca buku berdasarkan karakter tokoh yang ada di dalamnya dan pendewasaan yang terjadi dalam ceritanya. dalam pikiranku ada beberapa list karakter atau bahkan nilai tertentu yang menurutku itu harusnya ada juga pada orang lain, salah satunya adalah rasional. awal kali membaca buku ini aku masih agak ragu, karena memang awalnya ada unsur fantasinya menurutku. aku juga tidak terlalu suka fantasi, tapi kadang masih suka filmnya khususnya dari film anime jepang karena fantasinya bener-bener total wkwk. kapan-kapan aku ceritain ya!
setelah beberapa kali dihadapkan konflik, tokoh utama dalam buku ini sering mengambil keputusan yang menurutku sangat gegabah. mungkin bagi sebagian orang itu dianggarp "berani" "humanis" "keren" dsb. tapi memang menurutku itu sudah kelewat batas dan tidak habis pikir atas apa yang dilakukan oleh tokoh utamanya. setiap orang pastinya akan berpikir, berhitung atas keputusan yang diambilnya ya kan? tapi aku tidak melihat itu pada tokoh utama di buku ini. seolah-olah dia bukan manusia saja. oiya, aku memang belum baca sampai habis karena sudah sebal duluan atas keputusan-keputusan bahkan karakternya tokoh utama. tapi tenang, aku akan membacanya lagi kok pasti!! tidak hanya satu kali saja tapi ada beberapa kali dan menurutku itu sudah menjadi karakternya tokoh tersebut karena berpola.
kenapa aku bisa sampai menyimpulkan seolah-olah dia bukan manusia, karena begini.. dalam suatu masalah tertentu yang menurutku sangat berat, dilematis untuk dipecahkan sama tokoh utama dapat dengan mudah dipecahkan. contoh saat dia dihadapkan dengan hidup matinya orangtua temannya vs dirinya sendiri (keperawanannya). dia dengan mudah memilih keputusan itu, seolah tidak ada suatu hal besar yang terjadi T.T T.T
aku syok membaca bagian itu dan jujur aku sangat membencinya karena dia dengan mudah menyelesaikan masalah itu. mungkin kalau dilihat dari sisi kesehatan mental sebenarnya ada benarnya juga kecepatan pengambilan keputusan yang dilakukan tokoh itu. bukan karena apa tapi lebih ke sisi dia tidak perlu lagi memikirkan apapun, tidak perlu lagi menyesali apapun, tidak perlu lagi overthinking akan suatu hal. seolah semuanya sudah berlalu begitu saja dan tidak ada apa-apa yang terjadi. makannya aku sempat bilang bahwa tokoh utamnya sepertinya bukan manusia.
tapi ada satu hal yang aku pelajari dari proses membaca buku tersebut sejauh ini yaitu dalam suatu pengambilan keputusan memang aku perlu hitung dengan baik. bagaimana resikonya/konsekuensi yang perlu aku ambil dan apa saja yang akan aku dapatkan lalu dibandingkan dengan alternatif lainnya. setelah yakin dan diambil keputusan ini, aku tidak perlu lagi menyesalinya karena semua itu sudah terjadi dan aku sudah menikmati segala hal yang kudapat darinya dan menerima konsekuensi yang muncul sebelumnya. tidak perlu lagi memikirkan hal-hal yang tidak perlu, menyesali hal yang sudah terjadi, cukup hadapi masa depan dengan berani.
kamu juga begitu ya :)

Komentar
Posting Komentar