What Stopped You?


     
Kata orang, "Belajar itu tak kenal usia". Jadi, siapapun kalian, diusia manapun kalian berada, entah remaja, dewasa, tua kalian semua berhak untuk mengeksplore bidang yang kalian minati. Ini melegakan sekaligus menakutkan bagiku, kenapa? melegakan karena memberikan harapan bahwa aku juga berhak untuk melakukan apa yang aku sukai dan memberikan kebahagiaan tertentu saat melakukan kegiatannya. 

    Kapan terakhir kali kalian 'deg deg an' saat akan dan sedang melakukan sesuatu? deg deg an yang aku maksud adalah persaaan berdebar, antusias, senang yang muncul saat akan dan sedang melakukan sesuatu. Misalnya, aku pernah merasakan ini ketika berangkat kuliah dengan mata kuliah yang aku sukai. Efeknya aku bangun pagi, berangkat lebih pagi, bahkan sepanjang perjalanan aku deg deg an karena gak sabar ingin segera masuk kelas, mendengarkan penjelasan, dan berdiskusi dengan dosen dan teman2ku. Pernah? Membahagiakan bukan? Bahkan sampai sekarang aku masih mengingatnya.

    Tapi, kebebasan untuk belajar ini sekaligus menakutkan bagiku karena kita akan menghadapi sulitnya jalan untuk meraih impian. Misalnya, untuk bisa memiliki skill di bidang x maka, aku harus siap untuk memenuhi syarat yang dibutuhkan, siap untuk diuji, siap menerima masukan dan kritik dari orang lain, siap untuk meluangkan waktu lebih untuk belajar, siap memperbaiki hasil sebelumnya, dan pastinya siap untuk menerima bahwa kita memang gak cocok/gak mampu di bidang itu. 

    Gak jarang, banyak orang yang berhenti bahkan sebelum memulainya. Ada banyak sekali sebabnya. Namun, dalam tulisan kali ini fokus utamaku adalah pada penyebab internal/diri kita sendiri. Terutama yang merasa 'tidak berbakat' di bidang yang ingin mereka pelajari. Selain itu, tentu ada sebab eksternal, mulai dari kondisi lingkungan yang tidak mendukung (read: orangtua haha), kondisi ekonomi, dsb. Hingga akhirnya dia mengambil kesimpulan di awal, bahwa dia tidak mampu di bidang itu.

    Sehingga, kita harus bagaimana? Note: solusi disini bisa jadi tidak sesuai dengan masing-masing kondisi kita dan akan ada banyak sekali perbedaan pertimbangan yang belum banyak aku ulas disini. Tapi, paling tidak disini aku hendak memberikan perspektif tertentu yang bisa kita jadikan bahan pertimbangan. Kalo sudah berbeda sekali, gakpapa coba diurai satu persatu kondisimu dan temukan jalanmu sendiri dalam memecahkan ini. Yakin sih aku kalo kamu bisa melakukannya. 

    Yuk lah cus,

    Pertama, perlu diingat bahwa manusia hidup memiliki batas usia tertentu. Umumnya 60 tahunan, tapi bisa aja batas waktu generasi kita lebih cepat dibandingkan sebelumnya, misalnya 30 tahun, bisa aja bukan? Sehingga, gak mau kan kelak diusia tua atau menjelang batas akhir hidup kita, banyak hal yang kita sesali karena memutuskan untuk tidak mengambil pilihan itu dan justru mengambil pilihan lainnya. Kemudian, mengingat-ingat lagi kenangan proses pengambilan keputusan itu dan menyumpahi diri sendiri 'bodoh' 'terlalu tll' dsb. karena tidak berani mengambil kesempatan tersebut. Spoiler alert!! Gimana sih rasanya jadi orang yang lebih milih mengubur impiannya dan gak pernah membiarkan dirinya mencoba kesempatan itu? Sedih yang pasti, bahkan semua lagu putus cinta bisa dia tangisi karena keputus-asaannya dalam meraih impiannya. 

   Kedua, perkara bakat. Emang sih, keberadaan bakat bisa mempercepat orang agar optimal dalam menjalankan sesuatu dibandingkan orang lain. Tapi ingat, "manusia adalah makhluk pembelajar", semua, tanpa terkecuali. Sehingga, siapapun kamu asalkan kamu mau belajar dengan melatih diri sendiri, mengevaluasi karya diri sendiri, dan terus meng-improve hasil karyamu tentu kamu akan terbiasa dan mahir dalam menjalankannya. Maka, langkah awal, jangan ada asumsi bahwa kamu gak berbakat. Dicoba dulu, pelajari satu-satu dan luangkan waktu lebih serta konsisten untuk mempelajarinya. Kalau memang pada akhirnya sudah tidak bisa dan hasilnya emang kurang yaudah gapapa, kan kamu sudah mencoba. Toh masih banyak hal yang bisa kita coba dan pelajari di dunia ini. 

    Perkara bakat juga sebenarnya agak menjengkelkan bagiku, karena kita (termasuk aku hehe) biasanya menilai berbakat atau tidaknya dengan membandingkan hasil karya kita dengan orang lain. Masalahnya adalah orang yang dibandingkan itu emang sepadan atau enggak dengan kita. Kadang yang dibandingkan itu orang-orang yang sudah berpengalaman, berlatih sekian tahun, dan memiliki banyak sekali catatan evaluasi dari karyanya sendiri sebelumnya. Tentu, dia sudah terbiasa dan terlatih untuk menghasilkan karya yang optimal. Tapi, memang sulit untuk meninggalkan kebiasaan ini karena alamiahnya manusia akan membandingkan dan menilai entah itu di-amin-i atau tidak. Kalau sudah begini maka, harus sadar betul bahwa setiap orang memiliki prosesnya masing-masing dan kita nggak bisa langsung membandingkan satu sama lain kemudian dinilai 'oh ini berbakat', 'ini tidak berbakat'. 

    Cara tambahan untuk mengurangi pikiran membandingkan tadi adalah dengan fokus pada diri sendiri. Paham kan? iya fokus aja sama diri sendiri. Gak usah liat kanan-kiri, kamu memiliki jalanmu sendiri untuk mencapai impianmu. Selain itu, sadari bahwa Allah menciptakan manusia itu dalam bentuk sebaik-baiknya dan Allah telah memberikan kita nikmat tiada henti. Mulai dari potensi akal yang luar biasa, hingga akhirnya bisa membuat manusia menghubungkan data, menganalisa, dan menghasilkan suatu kesimpulan tertentu dari fenomena yang dia amati. Selain itu, ada potensi panca indra untuk melihat, mendengar, dsb. Kemudian ada potensi bawaan seperti bakat tertentu dalam diri manusia yang itu unik, masing-masing dari diri kita memiliki porsi bakat tertentu, dan potensi-ootensi lainnya. Meremehkan sekali bukan? Kalau kita menganggap diri sebagai orang yang 'tidak berbakat', 'tidak berguna' padahal Allah sudah membekali potensi luar biasa untuk kita.

    Ketiga, hidup penuh dengan rintangan dimanapun kamu berada. Entah kamu sedang ada di jalan untuk mencapai impianmu atau tidak, semuanya sama. Sama-sama sulit. Sehingga, harusnya gak masalah kalau pada akhirnya kita harus menanggung resiko dari pembelajaran ini, seperti yang aku sampaikan sebelumnya. Mulai dari harus siap untuk memenuhi persyaratannya, siap untuk meluangkan waktu, dsb. Gak masalah, toh kalau kita emang memiliki passion disitu, semua proses pembelajaran itu gak akan terasa sebagai masalah. Justru akan terasa menyenangkan, karena kita suka di bidang itu.

    Keempat, aku tahu akan ada banyak sekali sebab eksternal yang bisa mengganggumu. Entah orangtua, dana, dsb. Memang ini perlu perhitungan yang lebih ketat lagi, sebab hubungannya tidak hanya dengan diri sendiri tapi juga dengan orang lain dan banyak orang yang dilibatkan. Mungkin saran yang bisa aku sampaikan hanya begini "jangan berhenti", kalau emang kenyataannya kondisi eksternal mengganggumi untuk belajar, maka cari alternatif lain yang mendekatinya. Ingat pesan yang aku sampaikan dipostingan sebelumnya kan? pasti ada jalan.

    Aku berharap kita bisa mulai menemukan titik terang atas hal ini. Mencoba, mengenal, dan mempelajari secara perlahan-lahan, hingga memutuskannya. So, jangan pernah berhenti yaa, kita bareng-bareng berproses menghasilkan karya unik kita masing-masing.

Komentar

Postingan Populer