Human Error


    Dulu pas waktu masih sekolah, aku sering mendapatkan nasehat begini :

"it's ok salah selama masa pembelajaran ini, justru banyak-banyakin salah biar kamu tuh banyak mengambil pelajaran dari kesalahan itu. Yang gak boleh itu salah ketika nanti sudah ada di masa kamu sudah bekerja."

   Dari awal aku sudah agak pesimis dengan nasehat itu. Aku sepakat bahwa salah ketika masa pembelajaran itu sangat wajar sekali dan itu bukanlah hal yang buruk. Justru dari kesalahan itu aku bisa mengevaluasi mandiri di bagian mananya aku salah, pertimbangan apa yang kurang tepat, variabel apa yang belum aku masukkan dalam pertimbanganku sehingga, kesimpulan jawabanku bisa keliru. Tentang hal itu benar dan ya aku sepakat. Namun, untuk kalimat selanjutnya bahwa ketika masa pembelajaranku sudah berakhir sd-smp-sma-kuliah, saat aku masuk ke dunia kerja, aku dituntut untuk tidak boleh salah ketika menjalankan pekerjaanku entah dimanapun aku berada.

    Dulu sebelum memasuki dunia 'kerja' aku iya-iya aja dengan semua isi dari nasehat itu dan berharap dengan semua bekal yang sudah kudapatkan dari belajar selama ini bisa membuatku mengambil keputusan yang selalu benar, tidak pernah salah. Nyatanya tidak bisa, pasti akan ada satu hari dimana aku melakukan kesalahan entah itu kadar kesalahannya rendah-sedang-tinggi. Pasti, pasti akan ada. 

    Kenapa begitu?

Karena manusia itu makhluk yang sangat dinamis. 

  Pagi happy, malamnya bisa sedih gak karuan. Kadang motivasinya lagi tinggi, kadang juga motivasinya rendah, bahkan flat alias yaudah kerjakan apa adanya aja. Gak perlu alasan lagi, coba deh kita flashback bareng-bareng pernah gak sih kita kayak gitu? pagi senang, malemnya sedih banget. Alasannya bisa macam-macam, entah itu karena ada masalah dengan kerjaannya, masalah di lingkungan kerja, masalah keluarga, masalah sama sahabat, temen, pacar, bahkan masalah dengan diri sendiri. Ada aja deh jenis masalah di dunia ini. 

  Nah, ketika masalah-masalah itu terjadi, pikiran dan perasaan kita juga merespon dan kecenderungannya negatif karena namanya juga masalah kan ya, pasti yang ada kita kesel, pingin segera selesai, dan emosi negatif lainnya. Sedangkan saat itu juga, kita dihadapkan dengan kewajiban untuk mengerjakan pekerjaan kita. Apa yang terjadi? pikiran kita terpecah: masalah kerjaan vs masalah yang barusan kita alami. Bisa juga gak terpecah yaitu masih satu rumpun jenis masalah tapi jadinya bercabang, misal masalah pekerjaan A vs pekerjaan B. Itu baru 2 masalah, kalo ada 3 masalah bisa banget, bahkan bisa lebih. Tinggal fokus kita saat itu di masalah yang mana. Bagaimana dengan perasaan kita? Jawabannya tergantung, apakah kita sudah jago untuk mengesampingkan perasaan negatif kita dan berusaha fokus dengan pekerjaan atau justru emosi itu jadi terbawa saat kita menjalankan pekerjaan. 

Masalahnya, kalau perasaan itu kuat maka, pikiran kita jadi lemah. 

    Efeknya, saat menyelesaikan pekerjaan kita, bisa jadi ada yang kurang kita pertimbangkan, ada yang lupa kita masukkan dalam variabel pertimbangannya dsb. karena kondisinya kekuatan berpikir kita melemah, yang kuat hanya emosi yang membuncah entah marah, capek, dsb. Kalaupun kita bisa mengendalikan perasaan kita dan bisa lebih fokus pada pikiran kita saat itu, masalahnya kemampuan berpikir kalian jadi bercabang. Satu untuk masalah A dan satu lagi untuk masalah B. Efeknya, kemungkinan hampir mirip dengan yang sebelumnya.

      Aku tau kalau di dunia kerja ada istilahnya 'PROFESIONAL'. Jadi entah bagaimanapun masalah di luar pekerjaan yang sedang kamu hadapi, kamu harus tetap menjalankan pekerjaanmu dengan baik, sesuai dengan aturan yang ada. Tapi bagaimanapun juga, kita ini manusia, si makhluk paling dinamis. Oleh karena itu, akan ada saatnya kita mengalami human error, pasti akan ada saatnya itu terjadi. Jadi wajar kalau misalnya dalam menjalankan pekerjaan kita nantinya kita masih keliru, ada yang terlupa, ada variabel lain yang belum kita pertimbangkan dsb., gak masalah yang penting bagaimana cara kita menyikapi kesalahan itu.

Salah? ya tinggal dibetulkan

   Se-simple itu. Kalo ternyata sebabnya karena datanya keliru maka kita cari data yang benar itu harusnya gimana, koordinasi dengan pihak terkait biar bisa nemu sumber data yang valid. Kalo yang salah ternyata adalah rinciannya, maka kita ganti dengan rincian yang lebih tepat, kita periksa lagi apakah rinciannya sudah benar. Jangan lupa, selesaikan juga efek dari kesalahannya. Misalnya karena kesalahan data, orang yang butuh datanya juga perlu dikasih tau lagi bahwa ada data yang keliru dan berikan lagi data yang benar. 

   Selama kita memang sudah mengakui kita salah, bertanggungjawab dengan pekerjaan kita, dan melakukan evaluasi diri atas kejadian tersebut maka, menurutku tidak masalah ketika kita melakukan kesalahan. Toh kita juga sekedar manusia. Jadi, gak masalah kalo ternyata kita masih melakukan kesalahan dimanapun masa yang kita jalani. Tenang, terima kenyataan bahwa kamu salah, beri jeda bagi dirimu untuk mencerna kesalahanmu, segera perbaiki, dan lakukan evaluasi mandiri.

    


Thank you for your time, see you in another blog haha.

Komentar

Postingan Populer