It's Ok For Being Average


    Aku paham mengenai diriku sendiri. Aku tau bahwa aku bisa menaklukkan masalah akademis buktinya aku lulus. Aku bisa nggambar, melukis, aku bisa menulis, aku bisa menyanyi dan menari, aku juga bisa menaklukkan masalah pertemananku hingga, akhirnya aku memiliki my second home selain keluargaku. Dan masih banyak hal lain yang aku bisa melakukannya. Dari sekian hal yang aku bisa, gak semua hal itu bener-bener aku bisa melakukannya/jago ngelakuin itu. Mungkin kalo ada skala sukses keberhasilan bahwa masalah itu terpecahkan antara 50-90%. 

    Aku bisa manajemen tapi di manajemen itu ada banyak sekali sub-bidangnya. Misalnya ada manajemen keuangan, manajemen sumber daya manusia, manajemen pemasaran, dan masih banyak lagi sub-sub lainnya. Di antara sub-bidang itu mungkin aku hanya ahli di 1-2 bidang, selainnya aku biasa (gak ahli). Biasa atau gak ahli ini maksudku adalah aku butuh waktu lebih banyak dalam memecahkan masalahnya, aku harus liat dan memahami kondisinya berulang-ulang kali, baru aku bisa menganalisis dengan tepat. Mungkin beberapa kali aku masih keliru dalam pertimbangannya. Aku bisa, tapi aku gak seahli itu.

    Aku juga bisa gambar tapi kemampuanku hanya pada sketchnya saja, untuk mewarnai aku masih kurang. Mungkin kalo diberi skala penilaian sekitar 50%. Sisanya bisa cuman aku butuh waktu lebih untuk mengulang, memoles, dan memastikan garesanku tepat dan sesuai yang aku mau. Jadi bisa dibilang aku ini bisa tapi gak jago jago amat dan kayaknya hampir semua bidang begitu hahah (crying inside).

   Kesimpulan ini diambil dari seringnya aku membandingkan diri dengan orang lain. Saking seringnya, hal ini beberapa kali bikin aku down dan gak mau lagi buat nyentuh bidang-bidang itu lagi. Entah itu art, nulis, dsb. karena lelah dicap jelek oleh diri sendiri setelah membandingkan dengan karya orang lain.

    Yup, that's my fault.

    Aku bodoh membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang aku gak tau posisi 'start' mereka itu darimana karena bisa saja berbeda sama posisiku. Sikap yang aku ambil juga salah besar, aku justru menghindar dari dunia itu. Padahal kan aku bisa belajar dari mereka, tanya ke mereka, dan berusaha untuk memperbaiki diriku sendiri.

    Tapi ya.. Jadi orang yang biasa-biasa aja tuh sebenernya merupakan sebuah privilege

    Kenapa?

   Pertama, kita bakal membiasakan diri untuk menjadi orang yang tidak tau apa-apa, kasarannya kita 'bodoh' disitu. Sehingga, setiap langkah yang kita ambil itu jadi lebih berhati-hati. Kita juga jadi lebih sering kroscek, cari data, dan menganalisis lagi, apakah sudah tepat atau tidak ini pilihan yang kita ambil.

   Kedua, kita jadi tertuntut untuk bertanya ke orang yang paham mengenai hal tersebut. Kenapa aku menganggap ini sebagai sebuah hal positif? karena hal ini bisa mengingatkan kita bahwa kita bukanlah siapa-siapa kalau tanpa mereka, singkatnya kita ini juga makhluk sosial sehingga pasti akan membutuhkan orang lain untuk memecahkan masalah kita. Selain itu, kita jadi lebih berani untuk asking for help, kedepannya kalo terjadi apa-apa sama kita dan gak ada orang yang kita kenal, kita bisa lebih berani buat minta pertolongan orang lain. Plus!! hal yang kita pahami bisa lebih tepat karena orang yang kita tanyai itu lebih paham tentang hal tersebut.

    Ketiga, kita jadi tertuntut untuk terus belajar lagi dan lagi, gak berhenti hanya di skill yang sudah dipelajari. Kalo di Jepang ada istilah 'Kaizen' yaitu perbaikan terus menerus. Karena kita merasa gak tahu dan tertuntut untuk kroscek dan cari data lagi seperti yang sudah aku sebutkan di poin pertama maka, kita jadi tau tools apa saja yang update tentang hal yang sedang kita pelajari. Dari sana kita bisa perkenalan dulu sama tools baru itu dan menyadari manfaatnya. Kalo tools barus itu bisa memecahkan masalah dengan lebih tepat, maka kita juga merasa perlu untuk mempelajarinya.

    Sejauh ini yang tak amati plusnya kita menjadi orang biasa/rata-rata sih itu ya, kalo kalian nemu lagi boleh dong sharekan di kolom komentar :)

    Aku sudah keliru dalam menilai diriku sendiri sehingga, membuatku jauh dengan dunia-dunia yang aku sukai. Sebenernya perbandingan itu perlu untuk memacu diri kita juga buat ngasih yang terbaik, tapi kalo orang yang kita bandingkan berbeda posisi start dengan kita, yaaa jelas beda nilainya bahkan bisa saja 'jomplang'. Sebenernya paling nyaman sih.. ya kita fokus saja sama proses kita sendiri, sudah sejauh mana? apa saja perubahan-perubahan yang sudah kita capai sekarang? 

    Just Do It

    Kalo kata nike.

  Jangan terlalu sering membandingkan diri ya. It's ok kok kalau misalnya kita biasa saja, tinggal kitanya aja yang mau untuk terus berlatih, evaluasi diri, dan terus berkarya sampai kita mencapai hasil karya yang kita mau. Udah gak usah kebanyakan mikir, gih buruan ambil peralatannya dan hasilkan karya terbaikmu.


    Semoga tulisan ini membantu kalian ya.

    Can't wait to see our process.

Komentar

Postingan Populer