A Little Life - Book Review


 A Little Life By Hanya Yanagihara


    A few days ago finally, aku selesai baca nih buku dan aku gak pernah nyangka kalo aku berakhir dengan nangis kecut, persis kayak cover bukunya ini. After tastenya gak enak banget karena aku nangis sampe kepalaku pusing, tapi anehnya langsung tidur nyenyak.

    Awal mula pingin baca buku ini karena banyak sekali seliweran video kakak-kakak yang baca ini sambil nangis kejer di sosmed. Kadang kan kita pingin ya meluapkan seluruh emosi dengan cara menangis, salah satu stimulus yg bisa dicoba adalah dengan baca buku. Yap! aku pingin ikutan nangis jelek karena ingin meluapkan emosiku selama ini. Yaa kira-kira aja, hidup gak selamanya b aja, kadang ada aja yang bikin kita jadi overthinking dan menyesali semuanya, ada juga masalah yang datengnya tuh gak ngadi-ngadi. So, i decided to buy this book and i reach that goals haha.

    Jadi, buku ini ngebahas tentang kehidupan beberapa orang yang ada di dalamnya. Mulai dari Jude, Willem, Malcom, JB, mereka semua ini temenan dan punya struggle-nya masing-masing. Permasalahan yang diangkat seputar pencarian jati diri, relationship, pertemanan, kesepian, pikiran tentang menua, keluarga, karir hingga self harm dan bundir, ringkasnya tentang hidup dan seluruh tantangannya wkwk. Trus ya, aku tuh gak pernah nyangka bahwa buku ini akan membahas self harm dan pikiran bundir segamblang ini, cuman menduga aja ada tapi gak sejelas dan senyesek ini. 

    Kesan pas awal-awal baca: menarik karena banyak sekali perkataan nyentil mengenai sikap kita ke orang lain dan diri sendiri. Selain itu, ada sisi misterinya karena di awal gak ada kejelasan kenapa sikap Jude setertutup itu. Di awal juga dibikin penasaran kenapa self esteem Jude tuh rendah banget, padahal dia secara karir, kecerdasan tuh beyond another characters. Trus di awal juga banyak menceritakan struggle-nya seluruh karakter Malcom dengan ekspektasi dan tuntutan keluarga yg tinggi terhadapnya, JB dengan karir dan passionnya, Willem dengan keluarga, karir, dan jati dirinya, dan Jude dengan masa lalunya.

    In short, awal buku tuh seolah menunjukkan riel bahwa apa yang selama ini kita liat enak di orang lain, bisa jadi bagi orang lain itu tidak enak, begitupun sebaliknya. Misalnya Malcom dengan segala privillage yg dimiliki orang tuanya. Uang, koneksi, fasilitas semua ada dan teman-temannya memandang hidupnya enak karena terkesan tidak mengkhawatirkan apapun. Meanwhile dibalik itu semua, Malcom gak punya kendali utuh atas hidupnya dan justru iri melihat teman-temannya (Willem, JB) bener-bener bebas ngejar mimpi dan passion mereka. 

    Well, sometimes kita bener-bener ngerasa stuck dengan diri kita sendiri dan melihat teman sepantaran kita bisa bebas melaju meraih apa yg mereka inginkan di sosmed. Tanpa sadar kita jadi mbatin:

"Enak ya jadi dia, gak ada yg dikhawatirkan, semua serba ada, jadi bisa ini itu" 

    Padahal apa yang mereka share ke kita tuh belum tentu mencakup seluruh pengalaman yang mereka lalui. Kita tahu-tahunya mereka udah sukses ya kan? Di lain sisi teman sepantaran kita yg kita anggap sukses itu juga melihat hidup kita enak tanpa beban, bisa mengejar hal lain yang mereka gak bisa kejar. Bruh! hidup ini sawang sinawang, kita gak pernah kenyang dengan apapun yang kita miliki dan kenyataannya kita terus membanding-bandingkan diri dengan orang lain. 

    So stop doing that! kali ini coba ajukan pertanyaan ini setiap kali hal ini terjadi:

"Dia bisa ini, good for her/him, kira-kira apa aja yg dia korbankan untuk berada di posisinya sekarang?"

    Setelah itu coba refleksikan ke diri kamu. Apakah kamu sudah melakukannya? apakah kamu sudah mengorbankan semua hal seperti yg orang sukses korbankan untuk mendapatkan hal yang kamu mau? Then dari sini kamu bisa mendapat inspirasi untuk melangkah sesuai dengan kondisi dan titik perjalananmu, bukan malah overthinking.

    Lanjut,

    Di tengah buku sampai akhir banyak ngebahas tentang masa lalu dan masa kininya Jude. Bisa dibilang dia tokoh utama dalam buku ini dan perlahan tapi pasti kita bakalan tau dan dibuat bergidik ngeri kenapa Jude setertutup itu dengan masa lalunya. Human trafficking dan prostitution banyak dibahas di masa lalu Jude dan jujur aku gak bisa membayangkan kalau ini riel terjadi di dunia nyata. Fenomena prostitusi yg diangkat juga menurutku gak umum karena dengan kondisi korban yang seperti itu dan pelaku (mucikari) yang demikian. 

    Setelah baca masa lalu Jude aku menyadari kenapa self esteem dia serendah itu, ya karena emang sesuram itu.. Anak sekecil itu harus ngadepin dunia kotor karena orang brengsek di sekitarnya! Kalau aku jadi dia aku bakalan beli teknologi yg bisa mengembangkan inovasi untuk membungkus memori masa lalu dan menguburnya dalam-dalam dan melupakan semua proses itu. Jujur aku pingin bahas sebab prostitusi itu bisa terjadi dan i know aku punya ilmu yang terbatas but let me share this, beberapa yang aku tangkap dari casenya Jude adalah:

1. Rendahnya tangki cinta dan kasih yang dia miliki. Hidup sebagai anak yatim piatu, tanpa tahu orangtuanya sama sekali benar-benar membuat tangkinya 0 bahkan minus dan anak sekecil itu juga pastinya ingin dimanja dan diperhatikan. Oleh karena itu, ketika dia mendapatkan stimulus ini dari siapapun dia akan mati-matian menuruti apa yang disampaikan oleh orang tersebut agar dia mendapatkan lagi cinta kasih yang dia mau :")

2. Tidak ada edukasi sex yang dia terima sehingga, ketika orang sekitar melakukan sesuatu padanya dia hanya menerima dan berpikir itu hal yang biasa. Ini masuk case parenting sebenernya cuman masalahnya Jude ini gak punya orang tua. Harusnya pihak yayasan/gerejanya menyediakan edukasi sex ini, bukan malah membiarkan atau melestarikan perbuatan bejat mereka. brngsk!

3. Minimnya control di lingkungan yayasan/gereja Jude. Bukannya menjadi safe space buat anak-anak yang gak punya orang tua eh malah jadi tempat bejat buat memuaskan nafsunya! Aku gak bisa bahas ini lebih lanjut karena jujur aku kurang paham gimana cara kerja gereja/ yayasan buat ngurus anak yatim piatu gini. But, i hope ini gak terjadi di anak-anak Indonesia khususnya, semoga.

    Jujur pas baca pertengahan buku ini aku sempet enek (bahkan menuju akhirpun demikian) dengan tingkahnya Jude yang self harm mulu bjir! kayak kenapa sih kamu tuh kek berat aja hidupmu, ini kasihan loh temen-temen kamu lainnya jadi khawatir sama kamu. Sumpah enek banget liat tingkahnya dan kasihan liat temennya dia yg juga terdampak harus mikirin dia, ngerawat dia, dan ngontrol dia. Tapi ternyata setelah tau masa lalunya ya siapapun yang ada di posisi dia juga pasti gak bakal bisa nanggung masa lalu se suram itu. So, don't ever judge book by the cover, it's real. Again aku bilang kayak sebelumnya: kita gak pernah tau sedalam apa orang itu terluka.

    Di akhir bagian buku sisa meweknya doang karena Jude udah bener-bener depresi akut dan gak bisa diselamatkan lagi. Kita bakalan dikasih POV gak hanya dari sisi Jude tapi juga orang sekitarnya Jude. Mulai dari orangtuanya, pacarnya (dia gay btw wkwk), dan teman-temannya. Orang depresi tuh yg susah gak cuman dia aja tapi juga orang-orang terdekat yang dia sayangi :")


At the end of this page i just want to say:

Please be kind and take care of each other <3

See u soon!

Komentar

Postingan Populer